The Right to Bleed
Biasanya, kalau seseorang sedang buntu saat tengah mencari materi untuk postingan baru di blognya, dia akan mencari lirik lagu yang dia suka dan mem-post-kannya begitu saja.
Dan memang itu yang sedang saya lakukan sekarang :p
Tapi nggak, saya nggak akan menulis tentang satu lagu kalau lagu itu nggak punya makna tersendiri buat diri saya. Semua orang juga begitu, kan?
I can’t stand to fly
I’m not that naive
I’m just out to find
The better part of meI’m more than a bird, I’m more than a plane
I’m more than some pretty face beside a train
And it’s not easy to be meWish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I’ll never seeIt may sound absurd, but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed, but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
It’s not easy to be meUp, up and away, away from me
It’s all right, you can all sleep sound tonight
I’m not crazy, or anythingI can’t stand to fly
I’m not that naive
Men weren’t meant to ride
With clouds between their kneesI’m only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me
Inside of me
Inside me
Yeah, inside me
Inside of meI’m only a man
In a funny red sheet
I’m only a man
Looking for a dreamI’m only a man
In a funny red sheet
And it’s not easyIts not easy to be me
Ngedengerin lagu ini, berasa ngedengerin Clark Kent curhat.
PSNMHII-phoria
This post is going to be very personal, veeery personal, and academical
So yeah, gue lagi excited dengan dunia ke-HI-an. Antusiasme dadakan gue ini mungkin merupakan bagian dari euforia yang tertinggal setelah berhasilnya gue memasuki jurusan ini setengah tahun silam.
“Nyemplung di dunia HI udah setengah tahun, baru antusias sekarang?”
Iya, karena selama setengah tahun gue berjuang keras untuk move on :p
Anyway, forget it. Yang jelas semester satu sudah teratasi dengan mantap, dan gue cukup puas dengan IP pertama gue. Jujur, gue tidak pernah melihat ada nilai-nilai “A” berjejeran sebanyak itu sebelumnya..
Oke, yang terakhir itu memang somcol, alias sombong colongan, dan tentu saja bukan hal itu yang akan dibahas di postingan kali ini. Dan sebelum prakata bertambah panjang dan tidak terarah, saatnya membahas hal yang benar-benar ingin gue bahas:

Ta-da!
PSNMHII adalah singkatan dari Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia. Event kedua terbesar anak-anak HI akan diselenggarakan untuk ke-24 kalinya di Universitas Paramadina, April nanti.
Dan gue, sebagai mahasiswa HI dari Universitas Pangeran-Bersorban-dan-Hobi-Naek-Kuda (UPBHNK), merasa terpanggil untuk berpartisipasi dalam event ini. Alesannya simpel, gue sebagai mahasiswa HI baru, ngerasa belum tau apa-apa dan ingin belajar banyak mengenai ilmu yang gue geluti ini. Alesan yang mulia, bukan?
Tapi, sayang seribu sayang, karena UPBHNK baru membuka jurusan HI-nya tahun ini (Ya, gue angkatan pertama), maka jalan gue dan temen-temen HI sekampus untuk menuju PSNMHII XXIV akan sangat terjal di bagian perizinan dan pendanaannya. Sebagai generasi pertama, maka kami wajib menyusun segala sesuatunya dan menciptakan culture yang baik bagi adik-adik kami, agar dapat berpartisipasi di PSNMHII.
Setidaknya, contoh proposal untuk pemberangkatan kami ke event ini sudah dalam tahap pengerjaan, tekad sudah terkumpulkan, manusia-manusia yang punya niat sudah bermunculan. Tinggal satu harapan: Terwujudnya Impian.
Sherlock
Awalnya, saya sama sekali buta tentang Sherlock Holmes. Nggak ada satupun dari puluhan novel dan cerpen karangan Sir Arthur Conan Doyle itu yang saya baca sampai akhir masa akil balig saya. Yang saya tau ya Sherlock Holmes itu detektif terkenal dan cerdas, itu saja.
Tapi pada akhirnya, sebuah motion picture berhasil menarik minat saya terhadap kisah detektif ini.
Jika anda pikir saya sedang berbicara tentang Sherlock yang ini:
Anda keliru :p
Yang saya bicarakan adalah Sherlock Holmes dan Dr. Watson yang ini:
Merasa kurang familiar? Wajar saja, karena ini adalah Serial TV “Sherlock” yang tayang di stasiun TV BBC One di Inggris Raya.
Lantas, apa yang membuat Holmes dan Watson versi BBC ini menarik? Bukannya dimana-mana Sherlock Holmes itu seorang detektif yang hidup di akhir tahun 1800-an, mengisap tembakau menggunakan cangklong, dan memakai topi deerstalker kemana-mana? Apanya yang beda?
Sobat, Sherlock yang satu ini Sherlock yang modern! Ya, dia hidup di masa kini! Dia menggunakan MacBook Apple sebagai tempat mencatat, memotret bukti-bukti kasus dengan kamera HP Blackberry, dan alih-alih menulis jurnal, Dr. Watson sekarang nge-blog!
Sebuah gebrakan yang fantastis, bukan?
Sherlock sendiri sudah berjalan sepanjang dua seri, masing-masing seri terdiri dari tiga episode, dan satu episode lamanya 90 menit. Jadi sampai sekarang, ada enam episode fantastis tentang petualangan Sherlock Holmes, dimulai dari pertemuannya dengan sahabat sejatinya Dr. John Watson, sampai pertarungan terakhirnya dengan musuh bebuyutannya, Moriarty. Semuanya diadaptasi dari novel dan cerpen karangan Conan Doyle dengan rasa baru, rasa modernitas abad 21
Begitu epiknya serial ini, baru berjalan selama enam episode, Sherlock sudah memenangkan 17 penghargaan dan 17 nominasi. Bahkan, Benedict Cumberbatch, pemeran Sherlock Holmes di seri ini, dinobatkan menjadi The Best Sherlock Holmes of All Time. Dia bahkan mengalahkan Jeremy Brett yang selama dua puluh tahun lebih dikenal sebagai “The Real Sherlock Holmes”!
Bagaimana dengan Robert Downey? Dia hanya berada di urutan ketiga
Penasaran dengan serial ini? Ingin menonton dan menyaksikan sendiri kecerdasan seorang Sherlock Holmes di masa kini? Lihat Season 1 di sini, dan Season 2 di sini
(Bukan) Seruan Apatisme
Benarkah ada hal yang bisa kita lakukan untuk negeri ini? Seruan-seruan yang mengajak kita untuk turut membangun bangsa -dengan berbagai cara- telah sering kita dengar, tapi apakah negeri ini benar-benar berubah? Atau hanya mengulang pola yang sama terus menerus?
Terdengar apatis? Memang. Orang-orang yang kebetulan menjadi mahasiswa di negara ini terlalu mudah percaya bahwa perubahan bisa terjadi dengan mudah, implikasi dangkalnya, mereka pikir dengan melakukan sesuatu, negara ini akan berubah.
Mahasiswa berpikir bahwa dengan berdemo dan melakukan serangkaian pencerdasan, negara ini akan berubah.
Mahasiswa berpikir bahwa dengan menulis kritikan dan mengikuti berbagai diskusi, negara ini dapat berubah.
Mahasiswa menganggap luapan dan buncahan idealismenya dapat mengalahkan kekuatan jahat yang menguasai negara ini.
Tapi, mari kita berhenti sejenak dari sikap heroisme kita dan merenung, benarkah sudah terjadi perubahan di negara ini? Perubahan yang benar-benar kita inginkan?
Lihat, kelakuan orang-orang yang kalian pilih di Senayan, sudah berubah?
Lihat, pemerintah dan birokrasi busuk di daerahmu, sudah berubahkah?
Lihat kemiskinan di sekitarmu, sudah ada perubahan?
Jujur, lebih mudah untuk berkata tidak ada perubahan yang berarti, dibandingkan terus menerus berdelusi dan mengharapkan adanya perubahan di negara ini.
Ngomongin politik, demo sana-sini, berpikir seideal yang kalian mampu, sok-sokan kritis dan menonton Today’s Dialogue atau Jakarta Lawyer Club (duh!) setiap hari tidak akan mengubah apapun, tidak akan menimbulkan rasa apapun, selain rasa muak dan bosan!
Ya, sobat, muak dan bosan.
Ide-ide revolusioner dan pemikiran cerdas sekarang bukan barang yang langka, ada banyak mahasiswa cerdas di negara ini, mungkin kamu salah satunya.
Tapi efek sampingnya, kecerdasan itu sekarang sudah mengklise! Sudah terlalu banyak orang yang mengutarakan ide-ide perubahan revolusioner, yang hanya berakhir di dalam kepala saja!
Dan kalau mau jujur, pemikiran yang selama ini kita anggap cerdas, sebenarnya tidak ada satu pun orang yang mau memperdulikannya lagi.
Dan kalau mau kejujuran yang lebih pahit lagi, yakin ada yang mau mendengarkan pemikiran idealis kita? Atau selama ini kita hanya terkungkung dalam ilusi diri kita sendiri?
Tidak ada satu pun kesimpulan dalam tulisan ini, kesimpulan ada dalam diri kamu masing-masing. Kalau mau didiskusikan di dalam kolom komentar, silahkan saja
Aku Merindukanmu, Kampus Kuningku
Mungkin sudah tak layak aku berucap begitu, mungkin sudah saatnya aku berlalu dan jalani hidupku, tapi tak ada satu pun hari dimana aku tak merindukanmu, kampus kuningku.
Tiga bulan lamanya kita tak bertemu, tiga bulan juga aku melepas jaketku, namun warna darah yang mengucur dari nadiku tetaplah sama, kampus kuningku.
Aku rindu menyusuri jalan-jalanmu, aku rindu bersembunyi di balik rimbunnya pepohonanmu, aku rindu bermain di danau indahmu, aku merindukanmu, kampus kuningku.
Kau mengajariku segala sesuatu, kau menyediakan semua yang kuperlu, kehangatanmu tiada dua bagiku, kau adalah taman bermain paling indah yang pernah kutemu, kampus kuningku.
Bagiku, kau candradimuka. Bagiku, kau arena. Bagiku, kau buku terbaik, pesta termeriah, dan cinta terindah.
Terima kasih, Makara. Untuk mengijinkanku menjadi bagian darimu walau setahun saja. Waktu berlalu begitu cepat, dan tak ada lagi yang bisa kuperbuat.
Satu janjiku, aku akan kembali padamu.











